Showing posts with label Suku Kaili. Show all posts
Showing posts with label Suku Kaili. Show all posts

Sunday, May 27, 2018

Baju & Senjata Tradisional Suku Kaili

Tahukah anda bagaimana pakaian dan senjata tradisional suku kaili? Pernakah terlintas dipikiran anda bagaimana bentuk senjata serta pakaian yang digunakan suku kaili dalam berperang dimasa lalu? Suku kaili dalam membela serta mempertahankan wilayah daerah tempat tinggal mereka, umumnya menggunakan senjata tradisional yang tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia yakni berupa pedang dan tameng namun memiliki ciri khas yang berbeda dari bentuknya. Kali ini saya akan berbagi cerita Dan informasi seputar pakaian dan senjata traditional ini.


1. GUMA

Masyarakat suku kaili mengenal senjata tradisional yang digunakan dalam berperang dengan nama GUMA (parang/pedang). Guma adalah sejenis pedang yang biasa digunakan untuk berperang. Jika dilihat dari bentuknya alat perang yang satu ini tidak jauh berbeda dengan alat yang digunakan sehari-hari dalam beraktifitas seperti berkebun mencari kayu bakar dll, namun perbedaanya terletak pada pegangan (gagang) serta sarung dan sebutanya. Sebutan Guma pada senjata ini memiliki makna yang sakral dan penuh nilai magis. 

Guma ini sendiri memiliki kekuatan magis yang berbeda-beda tergantung dari pemilik atau tingkatan penggunanya. Salah satu kelebihan Guma ini adalah bisa mendeteksi niat jahat seseorang serta mendeteksi kedatangan musuh. Menurut sejarah Guma akan bergerak dengan sendirinya apabila ada musuh yang mendekat. Bagi Guma yang memiliki kekuatan magis tinggi si pemiliknya tidak perlu bersusah payah untuk melawan musuh akan tetapi Guma tersebut konon dapat bergerak dengan sendiri untuk melukai lawannya.

Guma sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat yang digunakan sehari-hari dalam beraktifitas. Perbedaan nama pada alat yang satu ini menunjukan fungsi yang berbeda pula dalam penggunaannya. Alat yang digunakan sehari-hari ini diberi nama Taono dalam bahasa Kaili Ledo atau Babe dalam bahasa Kaili Da'a.

Sekarang Guma asli atau lebih dikenal parang adat peninggalan nenek moyang suku kaili ini sudah jarang ditemukan atau mungkin sudah tidak ada lagi. Hal ini bukan tidak beralasan,  konon parang adat yang satu ini memiliki hubungan magis kuat dengan pemiliknya. Apabila si empunya meninggal secara ajaib parang adat ini akan lenyap dengan sendirinya atau dikuburkan bersama si empunya. Adapun apabila parang adat tersebut masih ada dan dimiliki oleh beberapa orang, konon si empunya telah berpesan (nosabi dalam bahasa kaili)  pada parang adat itu untuk diwariskan pada Bija (anak,cucu) atau keturunannya.

Jika dilihat dari bahan bakunya sekilas tidak ada perbedaan dengan parang lain yang terbuat dari besi/baja. Namun berdasarkan penuturan dari beberapa sumber bahwa bahan baku pembuatan Guma itu sendiri didapatkan dari Pasir Apung atau semacam Biji Besi yang mengapung. Cara pembuatanya pun tergolong unik dan tidak masuk akal, pasir yang mengapung dikumpulkan dan dibentuk menggunakan tangan kemudian dipijat sambil ditarik memanjang sampai bentuk yang diinginkan sesuai, memang hal itu mustahil tapi menurut mereka kekuatan doa dan sedikit pengetahuan akan nama-nama asli (gaib) dari benda tersebut membuat mereka tidak memiliki kesulitan dalam proses pembuatanya.

2. Kaliavo

Selain Guma ada lagi satu alat yang sering digunakan dengan fungsi untuk pertahanan yang disebut Kaliavo. Dalam bahasa kaili Kaliavo berarti tameng, dimana bentuknya menyerupai perahu kecil yang diberi hiasan atau ornamen berupa anyaman yang jika dilihat sekilas nampak seperti bulu-bulu halus yang sengaja dibalut pada Kaliavo tersebut entah itu merupakan ciri khas suatu daerah atau dapat juga meambah tampilan kaliavo itu seperti memiliki kekuatan magis. Dari bentuk serta bahan yang digunakan membuat kaliavo tersebut sangatlah jelas bila peradaban masyarakat suku kaili pada saat itu belum terpegaruh oleh budaya luar dan tergolong masih primitif. Bagaimana tidak apabila disandingkan dengan daerah lain yang sudah mengenal budaya luar seperti daerah kerajaan, alat yang satu ini sangat jauh berbeda dari bentuk, bahan dan ukurannya, dimana pada tameng yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan lain sudah menggunakan besi sebagai bahan bakunya yang dibuat bundar seperti lingkaran atau segi empat dengan ukuran yang sudah besar.


Pakaian Tradisional Suku Kaili yang berada di daerah Parigi Sumber Troppenmusuem 1920
3. Pajama & Batutu                                     
Untuk pakaian yang digunakan mungkin tidak jauh berbeda dengan suku-suku lain yang ada di Inonesia, mereka hanya menggunakan celana pendek atau Pajama dalam bahasa kaili serta sarung yang dikalungkan menyamping sebagai tempat menyimpan bekal yang umumnya disebut Batutu. Pada Foto yang diambil selama masa pendudukan Kolonialis Belanda di atas sangat terlihat jelas bahwa pakaian yang digunakan sangat sederhana.

4. Tandu Bengga
Penjelasan untuk fungsi dan makna filosofi tanduk yang dipakai diatas kepala sebagai pengganti helm atau topi, sampai sekarang belum ada penjelasan yang terperinci namun jika dilihat sekilas tidak semua orang menggunakanya. Hal ini kemungkinan digunakan untuk membedakan antara panglima dengan prajurit atau bisa juga sebagai ciri khas suatu daerah dengan tujuan menambah rasa percaya diri serta membuat musuh gentar. Namun dari penjelasan ini belum ada pernyataan dari beberapa sumber akan fungsi dan filosofinya, karena jika dilihat dari fungsi sudang sangat jelas tanduk tersebut hanya akan memperlambat dan membuat penggunanya kerepotan harus mempertahankan diri atau mempertahankan tanduknya.

Jadi, bagi anda yang belum mengenal baju dan alat perang suku kaili, semoga tulisan ini dapat bermanfaat menambah informasi serta mengenalkan sedikit tentang kebudayaan suku kaili. Mohon maaf jika dalam tulisan ini terdapat kekeliruan, sebagai manusia biasa selalu terdapat kekurang begitu pula dengan tulisan ini. Jika terdapat kesalahan semoga tidak menjadikan perselisihan, kritik dan saran silahkan masukan dikolom komentar untuk kelengkapan dan kesempurnaan tulisan ini. Selamat Membaca, dan terima kasih telah mengunjungi Blog ini.





Tuesday, October 18, 2016

Pakaian Kulit Kayu

Pada zaman dahulu, masyarakat yang berada di Sulawesi tengah khususnya daerah yang sekarang adalah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala menggunakan kulit kayu sebagai bahan pakaian mereka.


Pakaian dari kulit kayu ini ternyata telah lama digunakan oleh masyarakat suku kaili yakni sejak zaman prasejarah yang berarti sebelum abad ke-5. Zaman prasejarah di Indonesia sendiri berakhir pada abad ke-5 sejak berdirinya Kerajaan Kutai. Dengan demikian perkiraan zaman prasejarah di Indonesia adalah abad ke-4 dan pakaian kulit kayu tersebut telah digunakan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada abad tersebut.  

Secara umum, masa prasejarah Indonesia ditinjau dari dua aspek, yakni berdasarkan bahan untuk membuat alat-alatnya (terbagi menjadi zaman batu dan zaman besi), dan berdasarkan kemampuan yang dimiliki masyarakatnya (terbagi menjadi masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa perundagian).

Pembuatan kain kulit kayu ini biasanya dilakukan oleh kaum wanita dan proses pembuatanya pun masih sangat tradisional. Pembuatannya biasa dilakukan setelah menanam padi hingga menunggu waktu panen. Kain kulit kayu adalah jenis kain yang menyerupai kertas. Kulit kayu yang digunakan sebagai bahan bakunya pun hanya berasal dari jenis pohon yang bisa digunakan untuk membuat tekstil kayu. Kulit pohon yang biasa digunakan membuat pakaian adalah kulit pohon NUNU (dalam bahasa kaili yaitu pohon beringin) dan kulit kayu IVO. Tangkai-tangkai pohon nunu atau pohon ivo diambil kemudian dikeluarkan serat-serat yang terdapat antara tulang dalam dan kulit luarnya.

Bahan yang telah dipilih, kemudian dimasak lalu difermentasikan dan dipukul-pukul hingga merata dengan menggunakan batu ike. Pewarnaan kain kulit kayu itu sendiri diambil dari bahan-bahan alami seperti direndam dalam lumpur untuk menghasilkan warna coklat. Selain itu, kain ini juga direndam dengan menggunakan berbagai macam bunga dan tumbuhan untuk menghasilkan warna lain. Jenis pakaian yang dibuat dari bahan kulit kayu ini memiliki tujuan yang berbeda tergantung keperluannya seperti untuk upacara adat maupun untuk pakaian sehari-hari. 

Untuk menambah keindahan pakaian kulit kayu tersebut dengan kreatifitas yang sederhana mereka menambahkan beberapa motif seperti, tanduk, tumpal, bunga dan belah ketupat. Motif-motif tersebut bukan hanya berfungsi sebagai keindahan akan tetapi mengandung makna keberanian, kebangsawanan, keramahtamaan dan persatuan.



Wednesday, March 25, 2015

KOLEKSI BATU LIDAH BUAYA





Koleksi Batu Lidah Buaya Motif wajah orang tua mirip kakek-kakek dan Batu Wali Berdoa






BATU KING KATULISTIWA

Batu King Katulistiwa adalah salah satu batu akik khas sulawesi tengah. Batu ini menjadi primadona di kota Palu karena warnanya yang khas yakni kuning dan identik dengan warna emas (gold). Warna yang sering digunakan oleh para pembesar sejak zaman dulu sebagai lambang kebesaran yang membedakan antara rakyat jelata dan pemimpin.

Batu King Katulistiwa memiliki bias cahaya bila terkena sinar matahari atau lampu yang menampakan keistimewaan dari Batu Katulistiwa tersebut.
Warna Batu King Katulistiwa memiliki kesamaan warna dengan beberapa batu lain yang sudah terkenal seperti Zikron. Nama zircon berasal dari bahasa Persia "argun" yang artinya warna keemasan. Batu yakut Zircon mempunyai nilai keras 7.5 berdasarkan daftar keras Mohs mereka menempati di urutan ke lima setelah batu intan, corundum, chrysoberyl dan topaz. 

Friday, January 2, 2015

SEKILAS SEJARAH SUlAWESI TENGAH


Sulawesi Tengah kaya budaya dan sejarah. Awal abad ke-13, banyak kerjaan kecil di tempat ini, di antaranya Banawa, Tawaeli, Sigi, Bangga dan Banggai. Abad ke-16.
Setelah abad ke-17 Belanda datang dan mencoba mengambil alih tempat ini. Pada abad ke-18 Belanda mengkontrol Sulawesi Tengah hingga tiba kedatangan Jepang. Setelah Perang Dunia II, Belanda mencoba menciptakan negara boneka tetapi penduduk setempat melakukan perlawanan, hingga akhirnya tempat ini menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1950 dan menjadi provinsi terpisah tahun 1964.


Kedatangan Belanda di tanah Sulawesi Tengah bukan tanpa alasan, dari beberapa sumber yang dijumpai dalam mengungkap sejarah kependudukan Belanda tersebut, menuturkan akan adanya sumber alam yang menjadi incaran mereka. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa foto dan dokumen yang mendukung akan alasan mereka datang ke Sulawesi Tengah yakni adanya foto yang menggambarkan kekayaan alam selama ekspedisi yang dilakukan Belanda di masa penjajahannya. Bukti-bukti lain yakni adanya penambangan-penambangan di berbagai tempat baik itu penambangan Emas, biji besi hingga batu mulia.